Thursday, February 28, 2013

Andi Pangerang Petta Rani "sosok pemimpin bersahaja"

Gubernur Sulawesi di era (1956-1960) ini. Kesederhanaan hidup yang terpancar jelas dari kehidupannya, telah membuatnya menjadi seorang pemimpin yang dicintai, disegani, dan dihormati oleh masyarakat pada waktu itu. Maka tak heran warisan akan nama besar beliau, hingga kini dapat tetap kita ingat sebagai salah satu jalan terbesar yang ada di kota Makassar, Jalan Andi Pangerang Petta Rani (AP Petta Rani).

Andi Pangerang Petta Rani lahir pada awal abad XX, tepatnya 14 Mei 1903 di desa Mangasa. Desa ini sendiri terletak di kawasan Kabupaten Gowa, yang telah lama dikenal sebagai sebuah kerajaan yang terbesar di wilayah Indonesia bagian timur. Ibunya adalah seorang ningrat bernama I Batasai Daeng Taco, sedangkan ayahnya adalah Raja Bone Terakhir, Andi Mappanyuki, aristokrat muda yang mempunyai peranan dalam dunia pemerintahan kerajaan Gowa.

Jika kita kembali menengok kepada sejarah, Kakek Andi Pangerang Petta Rani merupakan Raja Gowa yang ke XXXI, dan dikenal dalam sejarah dengan sebutan I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Husain Tu Lenguka ri Bundu’na. Dari bagian terakhir namanya yang berbunyi Tu Lenguka ri Bundu’na, yang berarti ‘orang yang berlindung di balik peperangan”.

Andi Pangerang Petta Rani sendiri, lahir pada saat yang kurang menguntungkan dimana saat itu kompeni Belanda masih menjajah hampir seluruh pelosok Indonesia termasuk Sulawesi. Oleh sebab itu, kedua orang tuanya, segenap anggota keluarga, dan lingkungan masyarakat, menumpukan harapannya agar kelak anak tersebut menjadi seorang manusia yang berbakti kepada orang tua, terpuji tingkah lakunya di masyarakat, dan kelak menjadi pemimpin di masyarakat yang disegani dan dihormati. Berkat doa dari orangtuanya, dan harapan masyarakat, harapan yang mulia itu pada akhirnya terwujud, dimana pada tahun 1950-an, AP. Petta Rani berhasil meniti karirnya menuju puncak pimpinan di Sulawesi dan berjaya menduduki jabatan gubernur militer.

Meskipun telah menjadi seorang pemimpin, beliau toh masih tetap berpegang teguh pada nilai-nilai budaya yang dianut oleh keluarganya. Setelah melalui upacara adat dan tradisi budaya oleh keluarganya, Putra kesayangan Andi Mappanyuki itu, kemudian diberi nama Andi Pangerang Daeng Rani. Namun, seiring dengan waktu nama itu kemudian berubah sedikit menjadi Andi Pangerang Petta Rani. Tidak ada satu sumber hingga saat ini, yang dapat menjelaskan dengan jelas proses perubahan sebutan dari ‘Daeng’ ke Petta. Yang jelas gelar ‘daeng’ dan ‘petta’ itu keduanya bermakna gelar bangsawan, baik untuk orang Bugis maupun untuk orang Makassar.

Menurut salah satu sumber lokal, asal mula nama Pangerang diberikan oleh Andi Mappanyuki dan Daeng Taco. Yaitu ketika Daeng Taco sedang berada dalam kondisi hamil tua, yaitu pada saat mereka mengunjungi mertuanya. Dalam kunjungan itu, Andi Mappanyuki membawa ‘persembahan’ atau bingkisan seperti kebiasaan yang ada dalam adat Bugis Makassar, khususnya di kalangan aristokrat yang berperan sebagai pengontrol adat.

Persembahan itu dalam bahasa Makassar disebut erang-erang. Tak berapa lama kemudian, Daeng Taco melahirkan anaknya yang pertama. Nah! untuk mengabadikan peristiwa kunjungan ke mertuanya itu, maka anaknya diberi nama Pangerang yang bermula dari kata erang-erang

Jalan itu membujur dari utara ke selatan. Di sisinya berdiri bangunan-bangunan pertokoan, hotel dan pusat perbelanjaan yang saling berdesakan dengan perkantoran dan warung-warung kecil. Semakin hari denyut modernitas makin terasa di sekitar jalan itu. Jalan itu bernama jalan Andi Pangerang Petta Rani. Diambil dari nama seorang pahlawan Sulawesi Selatan, gubernur militer tahun 1956-1960 meski mungkin tidak banyak anak sekarang yang tahu.
Andi Pangerang Petta Rani atau lengkapnya Andi Pangerang Petta Rani Karaeng Bontonompo Arung Macege Matinroe ri Panaikang lahira pada tanggal 14 Mei 1903 dari rahim seorang wanita bernama I Batasai Daeng Taco. Ayahnya adalah seorang bangsawan bernama Andi Mappanyukki yang kemudian dikenal sebagai raja Bone ke XXXI.
Awalnya beliau bernama Andi Pangerang Daeng Rani tapi kemudian masyarakat lebih familiar dengan Petta Rani. Tidak ada catatan mengenai perubahan ini, pun dengan waktu pastinya. Sementara itu nama Pangerang sendiri bermula dari sebuah peristiwa ketika beliau masih dalam kandungan. Ketika itu pasangan yang sedang menanti kelahiran anak mereka itu mendatangi orang tua mereka sambil membawa persembahan atau erang-erang dalam bahasa Makassar. Peristiwa inilah yang kemudian diabadikan dalam nama Pangerang. Jadi Pangerang yang dimaksud bukanlah seperti Pangeran dalam bahasa Indonesia.
Dalam tubuh Andi Pangerang Petta Rani mengalir darah bangsawan murni dari dua kerajaan besar, Bone dan Gowa. Meski begitu sama sekali tidak ada sifat beliau untuk menjunjung tinggi darah bangsawannya. Berbagai sumber menyatakan kalau semasa hidupnya Andi Pangerang Petta Rani selalu berusaha untuk tidak terikat pada gelar kebangsawanannya. Hidupnya sederhana dan selalu menghormati orang lain meski saat itu feodalisme masih sangat kental di Nusantara.
Sifat tuna pamai atau rendah hati yang dimiliki beliau menurun dari sang ayah. Meski seorang bangsawan, Andi Mappanyukki tidak serta merta tunduk pada pemerintah kolonial Belanda yang memang terkenal senang mendekati para bangsawan. Andi Mappanyukki malah terang-terangan menentang kolonialisme sehingga sempat dibuang ke Selayar bersama keluarganya.
Andi Pangerang Petta Rani hidup dalam lingkungan yang keras dan egaliter. Sedari kecil dia sudah membiasakan dan dibiasakan hidup di antara rakyat kebanyakan tanpa harus berlindung di bawah previlige sebagai seorang bangsawan. Menurut cerita beliau sering memarahi kawan sepermainannya bila mereka segan menabrakkan diri ketika bermain bola. Teman-temannya mungkin masih segan mengingat Petta Rani adalah seorang bangsawan, tapi justru itu yang membuat Petta Rani menjadi tidak nyaman.
Andi Pangerang Petta Rani tumbuh menjadi anak muda yang cerdas, cakap dan berkeinginan kuat. Itu pula yang membawa karirnya di dunia militer dan pemerintahan meroket dengan cepat. Puncaknya adalah pada tahun 1956 ketika dia diangkat menjadi gubernur militer untuk wilayah Sulawesi di tengah suasana Indonesia yang masih kacau.
Andi Pangerang Petta Rani mempunyai 8 orang anak dari 3 orang istrinya. Istri pertama yang dinikahinya tahun 1929 bernama Basse Daeng Talanna. Perempuan yang meninggal tahun 1951 ini memberinya 5 orang anak. Istri keduanya bernama Daeng Karang, dinikahi di tahun yang sama dengan istri pertamanya. Daeng Karang memberi 3 orang anak. Tahun 1952 Andi Pangerang Petta Rani menikah untuk ketigakalinya dengan wanita bernama Ratna Winis Daeng Carammeng. Dari pernikahan ketiga ini mereka tidak dikarunia anak.
Selain terkenal sebagai seorang pejuang militer dan sipil, Andi Pangerang Petta Rani juga dikenal sebagai seorang pembina Persatuan Sepakbola Makassar (PSM). Kesuksesan PSM pada era 1950an hingga awal 1960an tidak bisa dilepaskan begitu saja dari Andi Pangerang Petta Rani. Beliau adalah sosok yang sangat dekat dan perhatian pada para pemain. ?Beliau sering meluangkan waktu untuk bertanya tentang kondisi pemain, termasuk kondisi keuangan atau rumah tangga mereka. Tak heran bila semangat pemain sangat tinggi bila mereka didampingi Andi Pangerang Petta Rani.
Banyak kisah yang menceritakan tentang keserdahaan seorang Andi Pangerang Petta Rani, termasuk kebiasaannya menaiki becak ke tempat tujuan meski dia masih berstatus gubernur. Beliau beralasan itu sebagai satu cara untuk mendekatkan diri dengan rakyat. Jabatan gubernur dan darah bangsawan hanya titipan, bukan untuk disombongkan; demikian kata beliau.
Banyak kisah yang menggambarkan betapa sederhana dan kuatnya kepribadian seorang Andi Pangerang Petta Rani. Sebagian orang malah menganggap beliau sebagai God Father, sosok yang mengayomi dan lekat dengan rakyatnya. Tak heran bila namanya diabadikan sebagai nama sebuah jalan besar di kota Makassar.
Membaca kesederhanaan seorang Andi Pangerang Petta Rani menerbitkan sebuah rasa miris dalam hati saya. Beliau adalah seorang yang sangat sederhana, tenang, dan jauh dari keriuhan. Sifatnya berbeda jauh dengan jalan yang mengambil namanya. Jalan Andi Pangerang Petta Rani adalah sebuah jalan yang riuh, terkesan sombong di siang hari yang terik. Apalagi ketika barisan pohon di tengah jalannya ditebang demi pelebaran jalan. Sungguh terasa ironis dengan gambaran dan cerita seorang Andi Pangerang Petta Rani.

0 comments:

Post a Comment