Petta Lasinrang

Sekitar tahun 1856, keluarga raja dan pembesar kerajaan Sawitto, diliputi suasana bahagia atas lahirnya putra La Tamma yaitu La Sinrang. Kemudian dikenal dengan nama Petta Lolo La Sinrang. Putra La Tamma Addatuang Sawitto ini, dilahirkan di Dolangeng sebuah kota kecil yang terletak kira-kira 17 km sebelah selatan kota Pinrang. Karena ibunya bernama I Raima (Keturunan rakyat biasa) berasal dari Dolangeng.

La Tenri Tatta Arung Palakka (wali pitue) sang pembebas

Maddaremmeng MatinroE ri Bukaka meninggal dunia, maka digantikanlah oleh kemanakannya yang bernama La Tenri Tatta Arung Palakka MalampeE Gemme’na Petta To RisompaE

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, May 23, 2012

sejarah, ritual pembuatan kapal Pinisi

Pinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antarpulau. Pinisi adalah sebuah kapal layar yang menggunakan jenis layar sekunar dengan dua tiang dengan tujuh helai layar yang mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengharungi tujuh samudera besar di dunia. 

User posted image

Sejarah Kapal kayu Pinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu, diperkirakan kapal pinisi sudah ada sebelum tahun 1500an. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad ke 14, Pinisi pertama sekali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.

User posted image

Sawerigading berhasil ke negeri Tiongkok dan memperisteri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di negeri Tiongkok, Sawerigading kembali kekampung halamannya dengan menggunakan Pinisinya ke Luwu. Menjelang masuk perairan Luwu kapal diterjang gelombang besar dan Pinisi terbelah tiga yang terdampar di desa Ara, Tanah Beru dan Lemo-lemo. Dari peristiwa ini bagian kapal Sawerigading terbelah tiga dan terdampar di Bontobahari. Masing-masing bagian lunas pada haluan sampai buritan terdampar di dusun Lemo-lemo Tanah Beru. Papan dan seluruh bagian lambung kapal terdampar di Dusun Ara. Sedangkan tali temali serta layar terdampar di Bira. Dari ketiga bagian ini menurut sejarah yang kemudian dirakit warga setempat. Itu sebabnya, pada tiga desa tersebut terkenal dengan keahliannya masing-masing. Orang Ara ahli dalam membuat bodi kapal, orang Lemo-lemo ahli dalam membuat dan dasar dan mempekerjakan, dan orang Bira ahli dalam berlayar
Ritual pembangunan Pinisi

User posted image

Para pengrajin harus menghitung hari baik untuk memulai pencarian kayu sebagai bahan baku. Biasanya jatuh pada hari ke lima dan ketujuh pada bulan yang berjalan. Angka 5 (naparilimai dalle'na) yang artinya rezeki sudah di tangan. Sedangkan angka 7 (natujuangngi dalle'na) berarti selalu dapat rezeki. Setelah dapat hari baik, lalu kepala tukang yang disebut "punggawa" memimpin pencarian. Pada saat peletakan lunas, juga harus disertai prosesi khusus. Saat dilakukan pemotongan, lunas diletakkan menghadap Timur Laut. Balok lunas bagian depan merupakan simbol lelaki. Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Usai dimantrai, bagian yang akan dipotong ditandai dengan pahat. Pemotongan yang dilakukan dengan gergaji harus dilakukan sekaligus tanpa boleh berhenti. Itu sebabnya untuk melakukan pemotongan harus dikerjakan oleh orang yang bertenaga kuat. Demikian selanjutnya setiap tahapan selalu melalui ritual tertentu.

User posted image



Jenis kapal pinisi Ada dua jenis kapal pinisi Lamba atau lambo. Pinisi modern yang masih bertahan sampai saat ini dan sekarang dilengkapi dengan motor diesel (PLM). Palari. adalah bentuk awal pinisi dengan lunas yang melengkung dan ukurannya lebih kecil dari jenis Lamda.

Datuk ri Tiro sang penyebar agama Islam di Bulukumba

Datuk ri Tiro adalah salah satu dari tiga orang Datuk penyebar agama Islam awal di Sulawesi Selatan. Bersama dua rekannya yang lain, Dato ri Bandang dan Dato Patimang, mereka merintis jalan menuju penyebaran Islam di salah satu jantung kebudayaan nusantara ini. Nama asli beliau adalah Al Maulana Khatib Bungsu Syaikh Nurdin Ariyani. 

Mereka bertiga kemudian membagi wilayah Sulawesi Selatan menjadi tiga bagian; Dato Patimang menyebarkan Islam di daerah utara (Suppa, Soppeng, Luwu), Dato ri Bandang menyebarkan Islam di daerah tengah (Gowa, Takalar, Jeneponto dan Bantaeng), kemudian Dato ri Tiro menyebarkan Islam di daerah selatan (Bulukumba dan sekitarnya).

Setiap orang ini kemudian menyebarkan Islam dengan metode masing-masing yang disesuaikan dengan budaya setempat. Dato ri Tiro, sesuai dengan budaya di bagian selatan ini, kemudian menyebarkan Islam yang lebih bercorak tasawuf. 

Dalam penerapannya, beliau tidak terlalu mementingkan keteraturan syariat. Salah satu ajaran beliau yang terkenal adalah “dalam menyusun lima telur, yang pertama diletakkan tidak selalu yang menempati urutan pertama”. Artinya, penerapan lima rukun Islam tidak lah harus berurutan mulai dari syahadat sampai haji. Setiap kita boleh memilih apa yang kita rasa lebih memudahkan. Puasa, jika pun dirasakan lebih mudah daripada shalat, dapat dilakukan terlebih dahulu, demikian pula dengan syariat-syariat yang lain.

Perlu disampaikan pula bahwa masyarakat daerah ini sangat kuat memegang kepercayaan dinamisme, dan banyak memiliki kesaktian dan jampi-jampi yang mujarab. Menurut kisah yang diteruskan secara turun temurun, Dato ri Tiro memilih daerah Bontotiro pesisir sebagai pusat penyebaran agama Islam. Daerah ini adalah daerah tandus dan berbatu. 

Beliau kemudian mencari sumber air (karena ternyata daerah ini dialiri oleh sungai bawah tanah dengan kapasitas yang besar), dengan menancapkan tongkat beliau pada batu dan memancarlah air. Sumber air ini kemudian menganak-sungai, yang kemudian disebut dengan Sungai Salsabila, mengambil nama salah satu sungai yang terdapat di Surga.

Setelah mendapatkan kepercayaan dari seluruh masyarakat di Bontotiro melalui “keajaiban” yang ditampilkannya, beliau kemudian menghadap pada Karaeng Tiro, raja yang berkuasa di daerah ini dengan maksud mengislamkan sang raja. Tapi karena Karaeng Tiro dalam keadaan sakaratul maut, maka Dato ri Tiro langsung menuntun sang raja untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Dalam tiga kali percobaan pengucapan, Karaeng Tiro selalu salah mengucap; “Asyhadu allaa hila hila hilaa”, dan baru pada pengucapan keempat beliau dapat melafazkannya dengan benar. Karena peristiwa ini, dusun tempat tinggal Karaeng Tiro kemudian dinamakan Dusun Hila-Hila. Sampai akhir hayatnya, Dato ri Tiro menghabiskan hidup beliau di dusun ini.

Dato ri Tiro kemudian melanjutkan dakwahnya menuju daerah Kajang. Daerah ini adalah daerah adat yang diperintah oleh Ammatoa. Daerah ini adalah daerah yang paling kuat memegang adat, bahkan hingga hari ini. Mirip-mirip suku Badui di Banten, para penduduk daerah ini menggunakan pakaian hitam-hitam dan tidak mengijinkan perkembangan teknologi memasuki daerah mereka. 

Pada proses dakwahnya, Dato ri Tiro kemudian berhasil mengislamkan daerah ini. Tapi karena proses yang belum selesai, ada beberapa kesalahpahaman yang timbul. Salah satunya adalah kepercayaan penduduk Kajang bahwa Al-Qur’an diturunkan pertama kali di daerah ini, karena Dato ri Tiro membawa Kitab Suci Al-Qur’an ke daerah ini pada saat proses dakwah berlangsung. 

Hal lainnya adalah falsafah sufi yang mereka pegang kuat; “Sambayang tamma tappu, je’ne tamma luka”, yang artinya “Shalat yang tak pernah putus, wudhu yang tak pernah batal”. Hal ini mengisyaratkan penguasaan hakikat shalat dan wudhu yang mensyaratkan kondisi suci lahir-batin serta menyebarkan kebaikan kepada seluruh alam semesta. 

Puasa Ramadhan yang mereka jalani pun cuma tiga hari; awal, pertengahan dan akhir ramadhan saja. Hal ini dapat dimaklumi karena mungkin Dato ri Tiro tidak ingin memberatkan mereka pada awal mereka masuk Islam.

Demikianlah, dari dusun Hila-hila di Kecamatan Bontotiro ini, Dato ri Tiro menyebarkan cahaya Islam yang sangat inklusif sehingga ajaran-ajaran beliau tentang Islam yang mensyaratkan kebaikan kepada alam semesta dapat terus diamalkan. 

Adapun peninggalan-peninggalan beliau adalah Sungai Salsabila yang terus diziarahi pengunjung sampai sekarang, Sumur Limbua di pantai Tiro, serta Makam Dato ri Tiro yang juga tetap diziarahi sampai hari ini. 

Peninggalan beliau yang dalam bentuk social capital adalah ikatan persaudaraan yang beliau bentuk antara orang Tiro dan orang Kajang; “Kaluku attimbo ri Kajang, bua na a’dappo ri Tiro”, yang artinya “Pohon kelapa yang tumbuh di Kajang, buahnya dinikmati di Tiro”. Karena itu, upacara akil baligh orang-orang kajang disyaratkan untuk mandi di Sungai Salsabila di Hila-hila.

kisah makam tuju'a ( tujuh kubur ) sang penjaga karebosi


sejarah kuburan itu dimulai pada abad ke-10. Kala itu Karebosi masih masuk dalam wilayah Kerajaan Gowa-Tallo yang meliputi Sungai Tallo bagian utara hingga Barombong bagian selatan. Waktu itu pusat kota Makassar terletak di Benteng Somba Opu sehingga benteng itu dinamakan pula benteng Makassar. Setelah peperangan antara Kerajaan Gowa dan VOC meletus pertama kali pada 1667 dan dimenangkan oleh VOC, Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667. Dari perjanjian perdamaian ini, pusat Makassar terbagi ke Benteng Jungpandang juga.

Karena masih merasa terancam, VOC yang waktu itu dipimpin oleh Laksamana Muda Cornelisz Janszoon Speelman, menyerang lumbung padi rakyat Gowa dan membumihanguskan Benteng Somba Opu pada 1668-1669. Setelah peperangan kedua itu, VOC akhirnya mengambil alih pusat Makassar yang waktu itu hanya di benteng Jungpandang dan mengubah namanya jadi Fort Rotterdam. Speelman pun mulai unjuk gigi dengan melakukan perluasan kota pada 1670. Master plan perluasan kota itu tetap dilanjutkan oleh pengganti Speelman. Pada 1890 saat Makassar berstatus sebagai kota afdeling, Pemerintah Hindia Belanda berhasil memasukkan Karebosi ke dalam wilayah kota Anging Mammiri ini .

Konon menurut cerita, Gowa di abad ke-10 dilanda keadaan kacau balau. Gowa bagai sebuah rimba tak bertuan. Orang-orang saling beradu kekuatan. Setiap orang ingin membuktikan bahwa, dirinyalah yang terhebat. Dan akhirnya yang lemah tersingkir dari kehidupan.

Suatu hari di kala itu, Gowa dihantam hujan deras dan petir yang menyambar-nyambar. Peristiwa itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Dan di hari ke delapan, petir akhirnya berhenti berkilat-kilat dan hujan hanya bersisa pelangi dan gerimis seperti benang halus yang jatuh dari langit. Karebosi yang dulu merupakan hamparan luas nan kering lalu digenangi air.

Lantas sekitar ratusan mata rakyat Gowa saat itu tiba-tiba menyaksikan timbulnya tujuh gundukan tanah di tengah hamparan tersebut. Tujuh orang bergaun kuning keemas-emasan pun muncul sesaat lalu menghilang di tengah gerimis. Yang tersisa kemudian hanya tujuh gundukan tanah berbau harum.

Tak ada yang tahu asal muasal ketujuh orang itu. Namun, rakyat Gowa saat itu percaya kalau mereka adalah tomanurung (semacam dewa dalam mitologi Bugis Makassar) yang dikirimkan oleh Tuhan untuk negeri mereka. Kehadiran tujuh orang yang disebut sebagai Karaeng Angngerang Bosi atau Tuan yang Membawa Hujan, pun menginspirasi rakyat Gowa saat itu untuk memberi nama hamparan yang kemudian mereka jadikan sebagai sawah kerajaan itu. Jadilah nama Kanrobosi diberikan pada sawah itu. Kanro berarti anugerah yang Maha Kuasa dan bosi berarti hujan atau bisa juga bermakna kelimpahan. VOC kemudian mengubah nama itu jadi Koningsplein. Setelah penjajah Belanda menyerah, nama itu lantas berubah lagi jadi Karebosi seperti yang dikenal banyak orang dewasa ini.

Kurang lebih lima abad kemudian, di bawah kepemimpinan Batara atau Raja Gowa ke-7, tujuh gundukan tanah itu dihormati sebagai tempat berpijak pertama kali tujuh tokoh kharismatik tersebut. Lantas beberapa orang membentuk tujuh gundukan itu menyerupai kuburan dengan cara tiap gundukan diberi batu sebanyak tujuh buah. Cara ini sering dilakukan orang-orang di jaman dahulu untuk menandai sebuah kuburan.

Seiring berjalannya waktu, berziarah ke tujuh kuburan itu dianggap sebagai salah satu warisan tradisi penghormatan masyarakat dan penguasa setempat kepada tujuh tokoh yang diperkirakan turun dari langit tersebut. Pada saat H.M. Daeng Patompo menjabat sebagai Wali Kota Makassar pada 1965-1978, tujuh kuburan itu sempat ditutup. Namun beberapa orang yang percaya akan mitos ketujuh kuburan itu memugarnya kembali.

Mitos yang diyakini sebagian orang itu mengatakan, bahwa ketujuh tokoh tersebut akan turun lagi ke bumi suatu ketika nanti. Namun, seperti kedatangan mereka semula, akan ada pula kondisi tak menentu yang mendahuluinya. Bahkan keadaan itu telah digambarkan di dalam Lontara dengan kata-kata: jarangji na kongkong sikokko na sitindang, ganca-gancamo cera'. "Hanya kuda (yang merupakan simbol penguasa) dan anjing (sebagai simbol penentu kebijakan), saling gigit dan tendang hingga akhirnya terjadi pertumpahan darah," kata Daeng Pile mengutip salah satu isi dokumen Lontara itu.

Di saat banjir darah itulah, konon katanya di Karebosi akan muncul secara tiba-tiba tujuh balla` lompoa atau istana yang bentuknya serupa. Uniknya, bukan hanya bangunannya yang sama, tapi fisik, roman wajah, perilaku, dan kharisma penghuni istana juga bak pinang dibelah dua. Tapi di antara tujuh tokoh itu ada yang memiliki kharisma paling kuat. Tokoh itulah yang nanti akan jadi pemimpin utama dan menunjuk orang-orang yang dianggap bisa memulihkan keadaan pada saat itu. Dalam kepercayaan mistik Jawa, tokoh itu dikenal dengan sebutan Ratu Piningsit. "Saya memerkirakan tokoh yang pijakannya di tengah itulah yang nanti akan menjadi tokoh berkharisma paling kuat itu. Karena bagi saya, tokoh itu merupakan penyeimbang antara 7 lapis langit dan 7 lapis bumi," sebut Daeng Pile.

Namun Daeng Pile masih enggan menyebut secara detail persona masing-masing tujuh tokoh tersebut. Baginya hal itu masih tabu untuk diceritakan dan telah jadi konsensus antara dirinya dengan para penutur tradisi, dan mungkin juga dengan ketujuh tokoh tersebut. Ia punya alasan sendiri untuk itu. Menurutnya, dengan menyebut persona ketujuh tokoh itu dapat berpengaruh pada keberadaan seseorang atau negeri dalam berbagai hal, seperti bencana alam, kekacauan, kesengsaraan, yang memengaruhi aspek kehidupan dari rakyat maupun penguasa.


Terlepas dari beragamnya hikayat yang ada, ritual berziarah ke tujuh jejeran makam itu mungkin masih tetap berlangsung hingga hari ini. Mereka datang dengan kepercayaan dan tentunya saja niat yang berbeda-beda. Dan di tengah riuh rendah berbagai kegiatan di Karebosi, dari kelincahan kaki para pemain PSM menggiring bola, dari hingar bingar pertunjukan musik, hadir legenda abadi tentang tujuh penjaga Karebosi, yang dipercaya, yang diziarahi, dan menjadi tempat orang-orang menundukkan kepala, berdiam dan berdoa, ditemani nyala lilin merah, taburan kembang, dan sesajen.

Monday, May 14, 2012

Biography Tan Malaka

Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 19 Februari 1896 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 16 April 1949 pada umur 53 tahun) adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin sosialis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.

Dia kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan sosialis, ia juga sering terlibat konflik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan sosialis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai "Pahlawan revolusi nasional" melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.
Tan Malaka juga seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat.

Tokoh ini diduga kuat sebagai orang di belakang peristiwa penculikan Sutan Sjahrir bulan Juni 1946 oleh "sekelompok orang tak dikenal" di Surakarta sebagai akibat perbedaan pandangan perjuangan dalam menghadapi Belanda.

Riwayat 

  • Saat berumur 16 tahun, 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda. 

  • Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.
  • Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik
  • Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka di undang dalam acara tersebut.
  • Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang.
  • Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda.

 

Perjuangan

Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.

Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.

Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.

Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis "Menuju Republik Indonesia". Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.

Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi komentar: "Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…."

 

Madilog

Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.

Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.

Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.

Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.

 

Pahlawan

Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.

Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.

Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya[1].

Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949.

Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.

 

Tan Malaka dalam fiksi

Dengan julukan Patjar Merah Indonesia Tan Malaka merupakan tokoh utama beberapa roman picisan yang terbit di Medan. Roman-roman tersebut mengisahkan petualangan Patjar Merah, seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air-nya, Indonesia, dari kolonialisme Belanda. Karena kegiatannya itu, ia harus melarikan diri dari Indonesia dan menjadi buruan polisi rahasia internasional.
Salah satu roman Patjar Merah yang terkenal adalah roman karangan Matu Mona yang berjudul Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Nama Pacar Merah sendiri berasal dari karya Baronesse Orczy yang berjudul Scarlet Pimpernel, yang berkisah tentang pahlawan Revolusi Perancis.
Dalam cerita-cerita tersebut selain Tan Malaka muncul juga tokoh-tokoh PKI dan PARI lainnya, yaitu Muso (sebagai Paul Mussotte), Alimin (Ivan Alminsky), Semaun (Semounoff), Darsono (Darsnoff), Djamaluddin Tamin (Djalumin) dan Soebakat (Soe Beng Kiat).
Kisah-kisah fiksi ini turut memperkuat legenda Tan Malaka di Indonesia, terutama di Sumatera.
Beberapa judul kisah Patjar Merah:
  • Matu Mona. Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Medan (1938)
  • Matu Mona. Rol Patjar Merah Indonesia cs. Medan (1938)
  • Emnast. Tan Malaka di Medan. Medan (1940)
  • Tiga kali Patjar Merah Datang Membela (1940)
  • Patjar Merah Kembali ke Tanah Air (1940)

 

 

Buku

  • Menuju Republik Indonesia (1924)
  • Dari Pendjara ke Pendjara, autobiografi
  • Madilog (1948)
  • Gerpolek (1948)
  • Parlemen atau Soviet (1920)
  • SI Semarang dan Onderwijs (1921)
  • Dasar Pendidikan (1921)
  • Islam dalam Tinjauan Madilog (1948)
  • Semangat Muda (1925)
  • Massa Actie (1926)
  • Pandangan Hidup (1948)
  • Kuhandel di Kaliurang (1948)
  • Muslihat (1945)
  • Pari International (1927)
  • Rencana Ekonomi Berjuang (1945)
  • Aslia Bergabung (1943)
  • Pari dan Nasionalisten (1927)
  • Pari dan PKI (1927)
  • Politik (1945)
  • Manifesto Bangkok(1927)
  • Proklamasi 17-8-45 Isi dan Pelaksanaanya (1948)

Sejarah pemberian nama Indonesia

Nama Indoneisa untuk pertama kalinya muncul di dunia yaitu terdapat pada tulisan James Richardson Logan halaman 254 (1819-1869). Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Logan adalah orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Pada saat mengusulkan nama Indonesia Logan tidak menyadari dan tidak menduga ternyata nama Indonesia itu menjadi nama bangsa dan Negara yang mana jumlah penduduknya merupakan peringkat keempat terbesar di dunia. Dari situlah James Richardson Logan secara konsisten menggunakan nama Indonesia dalam karya ilmiahnya, dan dengan seiring perjalanannya waktu pemakaian nama Indonesia menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Inilah yang menjadi titik awal mula nama Indonesia di dunia.
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah Indonesia di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah Indonesia itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah Indonesia itu dari tulisan-tulisan Logan.
Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah Indonesia adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Pesan Sponsor
Pada dasawarsa 1920-an, nama Indonesia yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama Indonesia akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut -Hindia Belanda-. Juga tidak -Hindia- saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.
Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama Indonesia. Akhirnya nama Indonesia dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat, DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesia diresmikan sebagai pengganti nama Nederlandsch-Indie. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.
Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama Hindia Belanda untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.
Penjelasan Singkat:
Mengenai Logan. Namanya: James Richardson Logan (1819-1869). Dia adalah orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh.
Dia cuma seorang pengelola majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA); yang diterbitkan di singapura pada 1847.
Orang yang lebih arif mengenai Indonesia & kawasan di mana Indonesia itu berada adalah, George Samuel Windsor Earl (1813-1865).
Dia adalah seorang ahli etnologi bangsa Inggris. Pada tahun 1849, dia mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau).
Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: …the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Friday, May 11, 2012

Tangisan Seorang Gadis Cilik


Fathimah adalah seorang gadis kecil yang lemah lembut dan berani, namun hidup dalam keprihatinan. Pada masa kanak-kanak, dia tidak memperoleh kehidupan dalam kemanjaan yang biasa dinikmati oleh anak-anak sebayanya. Keluarganya hidup dalam pengasingan sehingga kecerian bermain, bercanda, dan bermanja berganti dengan hinaan dan cercaan dari kaum Quraisy. Ketika berangkat remaja, diapun ditinggalkan oleh ibu tercintanya, Khadijah. Tugas rumah tangga pun beralih kepadanya, karena semua saudara perempuannya telah mengikuti suami mereka. Semua itu dijalaninya dengan penuh keprihatinan, namun ikhlas.

Hari-harinya penuh dengan tugas kerumahtanggaan. Dialah yang menyediakan makanan, minuman, dan segala keperluan untuk ayah tercintanya, Rasulullah Saw. Dia pulalah yang menghibur dan menyenangkan hati sang ayah bila duka melandanya. Gadis kecil yang tabah dan lembut itu telah menjadi pengganti ibu di rumah tangga ayahnya.

Pada suatu hari, ketika sedang asyik menyediakan makanan untuk ayahnya, tiba-tiba temannya memanggil dari luar, "Fathimah, Fathimah, kesinilah, lihatlah ayahmu." "Kenapa dengan Ayahku ?" tanya Fathimah dengan cemas. "Orang-orang Quraisy telah memperolok-olokkan ayahmu di Masjidil Haram,"kata teman Fathimah. Tanpa mendengarkan lanjutan cerita temannya itu, Fathimah tergesa-gesa berlari dan berlari menuju Ka'bah. Setibanya dilapangan terbuka dekat Ka'bah, Fathimah melihat ayahnya, Rasulullah, sedang bersujud, sementara orang-orang kafir mengerumuninya. Dia bergegas menghampiri orang tuanya.

"Astaghfirullah," kata Fathimah.Dia melihat punggung orang tuanya berlumuran dengan kotoran unta. Secepat kilat dibersihkannya kotoran yang menempel dipunggung ayahnya. Ketika hampir selesai didengarnya orang ramai terbahak-bahak. Fathimah berpaling dan dengan kesal berkata, "Alangkah sampai hati kalian memperolok-olok ayahku, padahal dia adalah keluarga kalian sendiri. "

Mendengar ucapan Fathimah, olok-olok mereka tidak malah reda, tetapi bahkan tawa mereka semakin seru. Salah seorang diantara mereka berkata, "Orang tuamu yang telah memperolok-olok agama nenek moyang kita."

"Ketahuilah, apa yang telah dikatakan oleh ayahku adalah ajaran yang benar. Kalian telah sesat selama ini. Tidak ada yang dikatakan oleh ayahku, kecuali apa yang telah diwahyukan Tuhan kepadanya." balas Fathimah dengan berani.

"Haaa,haaa,haa," tawa meraka bertambah seru mendengar cerita Fathimah seraya berkata, "Cerita kamu itu adalah cerita orang gila." Fathimah merasa tersinggung. Dia berkata,"Janganlah kau tuduhkan hal yang demikian itu kepada keluargamu sendiri. Pernahkah ayahku membohongi kalian? Bukankah dia yang telah menyelesaikan perselisihan diantara kalian ?Bukankah kalian yang memberinya gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya)?"

Mereka terdiam. Apa yang dikatakan Fathimah adalah benar. Mereka tidak dapat menyangkalnya. Mereka terdiam sejenak, dan berangsur-angsur meninggalkan fathimah. Mereka bergumam,"Seorang Kanak-kanak membela ayahnya."

Fathimah pun kembali membersihkan punggung ayahnya, sementara air matanya menetes tak tertahan melihat penderitaan ayah tercintanya.Akhirnya, diapun menangis sesenggukan.

Setelah ayahnya mengucapkan salam sujudnya, Dilihatnya Fathimah menangis tersedu- sedu. "kenapa kau menangis, anakku?" tanya Rasulullah. fathimah bertambah menangis, sehingga nafasnya memburu menahan sedu."Duh Ayahku, alangkah tabah hatimu. Mereka telah melumuri pakaianmu dengan kotoran, meraka telah memperolok-olokmu, namun tidak ada dendam di hatimu."

"Ketahuilah anakku, mereka tidak menyadari perbuatannya, "Rasulullah menghibur anak gadisnya. Sambil berbimbingan mereka pulang kerumah. Selama dalam perjalanan, fathimah bersesenggukan. Dia prihatin terhadap nasib yang menimpa rasulullah.

Pada suatu hari yang lain, Rasulullah pulang ke rumah dengan muka sembab dan pakaian yang penuh kotoran. Di pelipis tampak ada darah mengalir. Fathimah tersedu lagi,"Duh ayahku, alangkah menderitanya engkau." Ayah tersayang menjawab, "Anakku ..., tidak ada kebahagiaan tanpa penderitaan." Fathimah segera saja mengambil kain dan air, kemudian membersihkan luka ayahnya. Hatinya pilu dan air matanya tak tertahankan lagi. Dia pun menangis sesenggukan.

"Jangan menangis anakku, dan jangan marah kepada orang yang telah berbuat tidak baik kepada ayahmu. Doakanlah mereka semoga mereka cepat menyadari kesesatannya," ujar Rasulullah menasehati anaknya.

Sifat seorang ayah yang suka memaafkan orang yang berbuat jahil terhadapnya ini, mengalir kepada Fathimah. "Alangkah pemaafnya engkau ayahh, " kata batin Fathimah. "Adakah orang yang telah menyakiti dirimu, tetapi tidak kau maafkan ? Dapatkah aku memaafkan orang yang telah berbuat pada diriku? Oh ayah alangkah baiknya jiwamu. Akan kuingat sifat ayah yang pemaaf ini"."Sifat pemaaf inilah yang menempa gadis cilik ini. Sifat ini telah menjadikannya bersifat zuhud, menerima dengan ridha apa yang menimpa dirinya.

Kenyataan pahit yang melanda keluarganya, gangguan-gangguan menyakitkan yang menimpa ayahnya, menyebabkan gadis kecil lebih cepat dewasa di banding umurnya. Fathimah cepat dewasa dalam berfikir, sehingga cepat menanggapi situasi yang dihadapinya.

Sejarah Pahlawan Heavy Metal dan Death Metal Dunia


Semakin sering diperhatikan, semakin bingung kita mendefinisikan apa itu musik heavy metal. Sepertinya lebih beruntung nasib orang yang menikmati musik metal secara sekelebatan saja. Mereka tinggal cari album baru dari grup rock yang lagi ngetop di bagian "new release" maka selesai masalah. Sebaliknya, penggemar fanatik musik keras malah terkotak-kotak dalam genre dan subgenre yang dipercaya oleh masing-masing sebagai yang "paling nge-rock" di banding lainnya. 
Setelah mengikuti sejarah perkembangan jenis musik ini dari seri-seri sebelumnya, paling tidak bisa diperoleh gambaran kasar apa yang sebenarnya dimaksud dengan musik heavy metal. Dalam tulisan ini, diulas secara singkat musik rock yang dimainkan oleh kelompok seperti Slayer, Manowar, Metal Church, Sepultura dan lainnya. Mereka inilah yang lebih mewakili citra metal di benak banyak orang. Mungkin karena penampilan fisik serta musik yang mereka usung memang tidak kenal kompromi dan bikin yang nggak siap mental kejang-kejang. "Nggak ada seksi-seksinya!", begitu komentar seorang teman wanita. Dia ternyata nggak sepenuhnya benar. Karena lebih banyak lagi yang bisa disimak dalam tipe heavy metal yang kurang disayang oleh MTV ini.  Sejak penghujung tahun 70-an sebutan heavy metal telah mulai luas dipakai untuk mengacu pada musik yang berkembang dari hard rock. Seperti juga hard rock yang memiliki banyak sisi, heavy metal tidak punya satu ruangan khusus yang bisa menampung semua karya artis metal. Aliran-aliran dalam heavy metal saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Kadang terdengar warna thrash dalam karya jagoannya progressive metal, Dream Theater (Under a Glass Moon) demikian juga ada pendekatan progressive yang sering dipakai oleh kelompok-kelompok death metal seperti Pestilence atau Death. Makin bingung kan ?  Memang kalau mau ditelaah dari segi teknik memainkan musik tulisan ini akan jadi seperti bahan kuliah. Karenanya lebih baik kita ikuti cerita perkembangan metal jenis ini dari waktu ke waktu. Seperti kata seorang pemenang hadial Nobel untuk bidang fisika asal Venice Beach, James Douglas Morrison, "New songs are old songs played faster and less beautiful". Semua yang baru pasti dimulai dari yang lama. Soal lebih jelek atau bagus itu relatif.
Untuk itu kita harus kembali ke paruh kedua dekade 70 saat terjadi serangan balik dari pasukan hard rock atas gempuran punk. Mereka antara lain adalah Judas Priest, Scorpions, Accept. Walaupun lebih pantas disebut hard rock karena nuansa blues yang kental, cara mereka membawakan chord demi chord dengan kekuatan penuh menjadi landasan dari apa yang disebut metal tradisional. Inilah jenis musik keras di masa-masa awal nama heavy metal baru dikenal. Semua jenis metal berikutnya, muncul dari cetakan yang dibuat oleh metal jenis ini.
Setelah struktur musiknya dibangun oleh the Priest dan kawan-kawan, metal tradisional (kadang-kadang disebut metal klasik) kemudian disempurnakan olehband-band seperti Iron Maiden dan Mercyful Fate dari angkatan NWOBHM. Masuklah melodi-melodi yang memancarkan kemegahan dan tema-tema magis penuh fantasi dalam metal. Dari generasi ini, hanya Iron Maiden yang mampu bertahan membawa panji metal ke dekade berikutnya. Peralihan 70 ke 80, heavy metal masih bergerak di bawah permukaan namun gaungnya telah terdengar kemana-mana. Kelompok-kelompok muda lahir mengikuti jejak para senior Judas Priest dan Iron Maiden yang sudah punya nama internasional. Di antara kreativitas gelombang heavy metal Inggris itu terselip Venom, grup yang nantinya menurunkan cabang lainnya dari metal, thrash dan black metal.
Periode setelah itu menjadi kebangkitan musik keras di seluruh dunia namun yang menjadi anak emas adalah jenis metal yang bisa diputar di radio-radio. Glam dan pop metal berjaya di mana-mana. Ini membuat penggemar berat Motorhead dan Venom kelabakan. Secara musikal metal telah dibawa ke arah yang lebih lunak dari apa yang dulu dirintis NWOBHM.
Makin lama makin banyak band-band L.A., ibukota glam, dapat kontrak rekaman. Heavy metal menggeliat lagi. Berbekal perasaan tersisih, koleksi piringan hitam grup-grup rock Eropa, 2 orang anak muda dari selatan California bertekad memainkan musik rock yang paling cepat, paling berisik dan paling sangar. Tahun 1983 mereka menelorkan album perdana berjudul Kill Em All, nama bandnya Metallica. Bersama Exodus, Slayer, Megadeth dan Anthrax, mereka menjadi pelopor dari apa yang dikenal sebagai trash.
Musik Metallica diawali dengan ide menggabungkan tempo tinggi punk rock dengan melodi, komposisi dan riff berat ciri metal tradisional. Mungkin karena pengaruh Motorhead, Venom dan punk lebih menonjol daripada yang lainnya maka hilanglah cara bernyanyi yang benar dan melodis dari metal. Padahal vokal yang baik adalah salah satu ciri khas metal tradisional dari jaman sebelumnya. Selain penggunaan bass drum ganda yang dipopulerkan oleh Motorhead, penggunaan senar e terbuka yang dikocok kencang sambil ditahan oleh telapak tangan menjadi ciri khas metal baru tersebut. Gaya ini kemudian jadi umum dipakai dalam memainkan metal.
Walau masih terbatas di arena-arena musik underground, setelah Kill Em All makin banyak band-band baru bermunculan meniru gaya bermain 4 anak muda yang bermarkas di San Fransisco itu. Metallica sendiri terus melangkah ke tingkat selanjutnya. Dalam album kedua, Ride The Lightning, tempo digeber semakin tinggi dan riff jadi lebih berat lagi dibanding Kill Em All. Dari sinilah nama trash metal mulai dipakai sebagai identitas jenis metal yang dipopulerkan Metallica. Namun baru setelah Master of Puppets thrash/ speed metal benar-benar terangkat sambil membawa kelompok lain yang sealiran ke permukaan peta musik dunia. Kelompok-kelompok lain yang kemudian sangat berpengaruh dalam mengembangkan thrash antara lain Nuclear Assault, Overkill, Death Angel.
Band-band yang kemudian muncul menunjukkan orisinalitas dan ruang lingkup yang luas. Metal mulai menunjukkan kecenderungan untuk bercabang kemana-mana. Istilah-istilah speed, thrash, death, power, muscle, progressive metal kemudian dipakai untuk membedakan musik keras yang makin beragam. Satu hal yang bisa dijadikan benang merah dari keseluruhan dekade 80 adalah speed. Tempo yang tinggi jadi ciri khas grup metal demi grup metal yang muncul di masa ini. Semuanya berusaha saling mengalahkan artis yang muncul sebelumnya dalam hal tempo musik yang dibawakan.
Kelompok lain yang berada di barisan paling depan adalah Megadeth yang dimotori oleh mantan gitaris Metallica, Dave Mustaine, memainkan apa yang disebut sebagai techno-thrash. Hybrid thrash metal ini ditandai dengan perubahan tempo dalam setiap lagu serta riff yang kompleks dipadu dengan lirik yang cerdas. Selain itu ada juga Slayer asal LA yang bercirikan riff-riff berat serta kesukaan Tom Araya dkk akan hal-hal yang berbau satanik. Kemudian Anthrax dari New York yang selanjutnya bereksperimen menggabungkan metal dengan rap. Karena perkembangan metal di dekade 80 dimulai dari thrash, dan band-band paling berpengaruh dalam thrash adalah keempat kelompok di atas maka banyak pengamat menyebut mereka sebagai "the big 4".
Di belakang mereka berturut-turut tampil Suicidal Tendencies yang merangkum metal, alternatif, punk dan rap ke dalam musik mereka. Juga ada Testament yang berhasil meraih sukses di pertengahan 80 melalui album-album Practice What You Preach dan Souls of Black. Seperti halnya pop metal, arena thrash metal juga memakan korban band-band bermutu yang gagal meraih sukses komersial. Di antara mereka ada Flotsam & Jetsam, Wrathchild America, Sacred Reich, Anvil, Voivod.
Gaya metal lainnya yang sempat populer di era tersebut adalah power metal dengan karakteristik lagu yang benuansa epik, ciri metal tradisional, dicampur dengan tempo dan riff berat dari thrash. Ada 2 pendekatan dalam power metal. Gaya Amerika yang dibawakan oleh grup seperti Manowar, Savatage dan Metal Church lalu gaya Eropa yang melodis dan kadang cenderung progresif seperti yang terdengar dalam karya-karya dari Rage dan Running Wild.
Yang terbaik diantara gaya Eropa ini adalah Helloween dari Munich, Jerman. Musik mereka mengingatkan kita pada Iron Maiden namun dengan tempo yang dipacu lebih tinggi. Seperti halnya pengaruh Metallica atas thrash, demikianlah Helloween merintis jalan bagi band-band seperti Blind Guardian dan Iced Earth yang mengusung power metal.  Saat semua orang asik memainkan thrash, Trouble muncul di tahun 1984 membawakan yang kemudian dikenal sebagai jenis musik doom. Aliran ini memainkan riff-riff berat ala Black Sabbath dikombinasi dengan warna rock-nya Rush dan Pink Floyd sampai jazz dan opera dalam tempo yang lebih lambat. Banyak yang keberatan untuk menggolongkan doom ke dalam metal karena keunikan tersebut. Kelompok-kelompok yang memainkan musik ini adalah the Obsessed, Candlemass, Penance. Doom selanjutnya membuka jalan bagi ranting lain yang disebut stoner metal. Trouble sendiri gagal mencapai sukses komersil walau tampil apik dan berkualitas. Mereka juga dikenal sebagai kelompok papan atas white metal (metal kristen).
Sebagai konsekuensi dari makin beratnya musik dan makin kencangnya tempo dipacu oleh grup-grup sesudah Metallica, thrash selanjutnya melahirkan cabang lain dalam metal, death metal.
Possessed dan Death dipercaya sebagai kelompok-kelompok pertama yang menghasilkan jenis metal yang nggak mungkin sukses di pasar komersil ini. Death metal bercirikan semua unsur yang ada di trash sebelumnya namun didorong lagi ke arah ekstrim. Gaya bernyanyi (kalau bisa dibilang menyanyi) para vokalis death metal terdengar seperti orang yang menggeram sambil mengikuti derungan gitar dalam tempo musik yang tinggi. Karena pengaruh death yang datang dari Venom dan Slayer serta musiknya yang "berat" maka tema yang disampaikan dalam lagu-lagu death juga tidak jauh dari kematian dan setan.
Death metal menjadi populer antara akhir 80 hingga awal 90. Artis-artis death bermunculan dari seluruh dunia namun 2 wilayah yang paling menonjol mewakili 2 gaya yang berbeda. Di AS, death metal berpusat di Florida, markas band-band seperti Morbid Angel, Deicide dan Cannibal Corpse. Mereka ini terkenal dengan sound yang brutal. Pusat death lainnya terletak di Swedia membawakan gaya yang lebih melodis dengan vokal yang tidak serendah cara musisi Amerika bernyanyi. Dari Swedia diwakili antara lain oleh Entombed, Dismember, Hypocrisy dan Grave.
Tidak lama setelah kemunculan death metal, penggemar musik mulai melirik musik metalcore, pengembangan lebih lanjut dari death. Siklus musik berputar lagi, kali ini melanda death metal. Oleh sebagian kalangan penikmat musik tersebut, death dianggap mulai pasaran setelah beramai-ramai band-band baru muncul dengan karya yang tidak banyak berbeda satu sama lain. Tidak ada lagi yang baru dari death metal karenanya lahirlah black metal dan grindcore.
Tapi death belum mati. Dari belahan benua Amerika Selatan muncul jagoan baru yang dimotori oleh 2 bersaudara Cavalera mengawali kebangkitan kembali death metal. 

Tuesday, May 8, 2012

Perang Bubat Sebuah Kebohongan Para Pemecah Belah Nusantara

Maha Patih Gajah Mada

Perang Bubat

Perang Bubat adalah perang yang diceritakan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan mahapatihnya Gajah Mada. Perang ini melibatkan sejumlah besar pasukan kerajaan Majapahit pimpinan Mahapatih Gajah Mada melawan sekelompok kecil pasukan kerajaan Sunda pimpinan Prabu Maharaja Linggabuana, di desa pelabuhan Bubat, Jawa Timur pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 masehi.

Pertempuran yang sangat tidak seimbang tsb dimenangkan secara mutlak oleh pihak Majapahit. Pasukan kerajaan Sunda dibantai habis termasuk komandannya yang juga raja kerajaan Sunda, Prabu Maharaja Linggabuana. Dan tidak cuma itu, permaisuri dan putri raja Sunda bernama Dyah Pitaloka Citraresmi – yang sedianya akan dinikahkan dengan raja Hayam Wuruk – ikut tewas dengan cara bunuh diri setelah meratapi mayat ayahnya.

Diceritakan bahwa timbulnya perang ini akibat kesalahpahaman mahapatih Gajah Mada saat melihat raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit sunda. Gajah Mada menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di pelabuhan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda kepada Majapahit. Hal ini menimbulkan perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada, dan memuncak hingga terjadi perang terbuka.

Sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya Perang Bubat ternyata hanya sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) dan kemungkinan besar berasal dari Bali, berjudul Kidung Sunda. Pakar sejarah Belanda bernama Prof. Dr. C.C. Berg pada awal tahun 1920an menemukan beberapa versi Kidung Sunda, diantaranya Kidung Sundayana, yang merupakan versi sederhana dari versi aslinya.

Secara analisis, Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat. Meskipun kemungkinan besar berasal dari Bali, tetapi tidak jelas apakah syair tsb. ditulis di Jawa atau di Bali.Kemudian nama penulis tidak diketahui dan masa penulisannyapun tidak diketahui secara pasti. Di dalam teks disebut-sebut tentang senjata api, ini menunjukkan kemungkinan bahwa Kidung Sunda baru ditulis paling tidak sekitar abad ke-16, saat orang nusantara baru mengenal mesiu, kurang lebih dua abad dari era Hayam Wuruk.

Lebih menarik lagi adalah bahwa dalam Kidung Sunda ternyata tidak disebutkan nama raja Sunda, ratu/permaisuri, dan putri raja. Diduga nama Maharaja Prabu Linggabuana dan nama putri Dyah Pitaloka Citraresmi sengaja diambil karena bertepatan pada tahun-tahun 1360an tersebut dia memang merupakan raja Sunda dan putrinya.

Perlu di perhatikan pula bahwa catatan peristiwa Perang Bubat tidak terdapat di dalam kitab utama peninggalan Majapahit, Negarakretagama, yang notabene ditulis oleh empu Prapanca sekitar tahun 1365 (satu tahun sepeninggal Gajah Mada). Adalah hampir tidak mungkin jika peristiwa besar sekaliber Perang Bubat dan belum lama terjadi tidak tercatat dalam kitab itu. Hanya disebutkan bahwa desa Bubat adalah suatu tempat yang memiliki lapangan yang luas, dan raja Hayam Wuruk pernah mengunjunginya untuk melihat pertunjukan seni dan hiburan.

Sebenarnya peristiwa bubat ini adalah upaya daripada devide et impera yang dilancarkan oleh para penjajah belanda yang kemudia di kembangkan dan dilestarikan kembali oleh penjajah bangsa Nusnatara yang bernama Indonesia saat ini, bersama dengan penguasa Negara kesatuan republic Indonesia, devide et impera terus dilestarikan, hukum belanda yang merupakan produk hokum pemjajah untuk melestarikan penjajahannya juga terus dilestarikan Perlu dikemukakan bahwa sang penulis Kidung Sunda (yang belum diketahui orangnya) lebih berpihak pada orang Sunda dan seperti sudah dikemukakan, seringkali bertentangan dengan sumber-sumber sejarah lainnya.

Sepertinya kita perlu curiga bahwa cerita tentang Perang Bubat dalam Kidung Sunda adalah fiksi belaka dan merupakan rekayasa dari pihak penjajah (Belanda ?) untuk tujuan perpecahan antar suku di pulau Jawa. Bisa jadi syair tersebut diciptakan sendiri oleh ilmuwan Prof. Dr. C.C.Berg atas perintah penguasa kolonial. Hal ini perlu adanya kajian yang lebih mendalam.Akibat yang fatal yang telah dirasakan oleh bangsa kita atas rekayasa tersebut (kalau memang benar) adalah adanya sikap etnosentrisme orang Sunda terhadap orang Jawa, dan juga pandangan yang sangat negatif orang Sunda terhadap tokoh/figur Gajah Mada (di Jawa Barat hingga saat ini mungkin tidak ditemukan nama jalan; Gajah Mada).

Semoga bangsa kita tetap bersatu dan tidak ada lagi rasa sentimen kesukuan. Karena sikap etnosentrisme tidak lain adalah hasil dari rekayasa politik pemecah belah si penjajah.Sejarah tak bisa ditutup-tutupi, apalagi dihilangkan. Sedalam apapun dipendam, bahkan dikubur sekalipun, suatu saat sejarah akan terangkat muncul dan menampakkan diri ke permukaan sebagai pengakuan kebenaran. Salah satu peristiwa lama yang selama ini terpendam adalah menyangkut Perang Bubat cerita tentang perang tersebut tidak dilengkapi data akurat.Buktinya penggalian purbakala di Trowulan dan di lapangan Bubat, tak ada temuan yang dapat mendukung terjadinya peristiwa itu.Bubat dilukiskan sebagai bandar tempat kapal atau perahu berlabuh karena terletak di tepi sebatang sungai besar. Di sana terdapat sebuah lapangan upacara yang luas tempat dipusatkan keramaian atau upacara kenegaraan dan keagamaan. Jika ingin menghadiri upacara tersebut, Raja Hayam Wuruk datang ke Bubat dengan mengendarai kereta yang ditarik empat ekor kuda.



Pusat Kerajaan Majapahit pun berbeda dengan anggap-an awam selama ini yang membayangkan tempat tersebut sebagai sebuah wilayah yang dikelilingi tembok tinggi sebagai benteng pertahanan. Pusat kota Kerajaan Majapahit dikelilingi oleh kanal-kanal yang saling berpotongan sehingga membentuk areal yang berbentuk segi empat. lokasi Bubat bukan sebagai pusat kerajaan Majapahit, di sekitar Bubat diperkirakan sebagai lingkungan yang padat penduduk. Seharusya jika terjadi peperangan, tentulah diketahui oleh masyarakat sekitar. Kalaupun terjadi pertempuran, barangkali bukan pertempuran besar. Arkeolog Universitas Indonesia Agus Aris Munandar belum pernah mendatangi langsung tempat yang disebut-sebut sebagai lokasi pecahnya Perang Bubat "Menurut informasi, lapangan Bubat itu sekarang berada di Desa Tempuran. Tempuran yang dimaksud bukan pertemuan antara dua sungai, tetapi tempat bertempumya pasukan-pasukan zaman dulu," katanya.

Bubat bisa jadi berasal dari kata "butbat"yang berarti jalan yang lega dan lapang.biasanya pada sebuah situs peperangan ditemukan benda-benda arkeologi yang bisa menjadi bukti terjadi perang. Misalnya ditemukan tombak dan keris yang berceceran.Nmun pada peristiwa Bubat ini, sanagt miskin bukti arkeologi. Bahkan bisa dibilang, belum ada bukti arkeologinya. Peristiwa sejarah akan lebih dipercaya jika mempunyai bukti-bukti arkeologi. Apalagi kalau sampai ada prasasti yang menerangkannya, tidak akan bisa dibantah.

Bukti arkeologi akan memperkuat bukti sejarah yang berupa naskah-naskah kuno. Naskah kuno biasanya sudah melalui proses penyalinan berkali-kali sehingga memungkinkan adanya perubahan dari naskah aslinya Tetapi setidaknya terdapat empat naskah Sunda kuno yang menyebut peristiwa Bubat, meski dalam versi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, peristiwa ini juga tidak bisa diabaikan begitu saja. "Bukan berarti peristiwa itu tidak pernah ada," katanya.Bernard H.M. Vlekke, Guru Besar Universitas Leiden, Belanda, penulis buku Nusantara. Sejarah Indonesia, menyebutkan bahwa lokasi Bubat yang diambil dari Kidung Sunda. Bubat adalah sebuah lapangan besar di sebelah utara Trowulan, ibu) kota Majapahit.



DI kalangan masyara-kat Sunda, peristiwa Bubat yang lebih sering disebut

Perang Bubat, bisa dijumpai dalam beberapa naskah kuno yang ditulis hampir

dua abad setelah peristiwanya terjadi. Naskah-naskah itu antara lain

Pararaton, Kidung Sunda, Carita Parahyangan, dan naskah Wangsakerta.

Sebaliknya, naskah Nagarakertagama atau Desawarnana karya Mpu Prapanca sama

sekali tidak menyinggung peristiwa tersebut.



Naskah-naskah kuno itu banyak dijadikan acuan dalam menulis Sejarah Jawa

Barat. Salah satu di antaranya buku "Sejarah Jawa Barat" yang ditulis

wartawan dan budayawan Drs. Yoseph Iskandar. Di sana, Yoseph melukiskan

peristiwa itu secara mengharukan.Lewat "Pararaton" dan Pustaka Nusantara II/2 yang diambil dari naskah Wangsakerta terjemahan Drs. Saleh Danasasmita (alm), peristiwa itu bisa

dituturkan kembali sebagai berikut: "Kemudian terjadi peristiwa orang Sunda

di Bubat. Sri Prabu ingin memperistri putri dari Sunda. Patih Madu diutus

mengundang orang Sunda. Maksudnya mengharap agar orang Sunda menikahkan

putrinya. Lalu raja Sunda datang di Majapahit. Sang ratu Maharaja tidak

bersedia mempersembahkan putrinya. Orang Sunda harus meniadakan selamatan

(jangan mengharapkan adanya upacara pesta perkawinan) kata sang utusan. Sang

Mahapatih Majapahit tidak menghendaki pernikahan (resmi), sebab ia

menganggap rajaputri sebagai upeti".



Karena merasa terhina, Raja Sunda dan rombongannya menolak permintaan

tersebut. Apalagi Kerajaan Sunda bukan bawahan dari Kerajaan Majapahit. Raja

Sunda merasa sejajar dengan Majapahit, sehingga akhirnya terjadilah Perang

Bubat pada hari Selasa-Wage sebelum te-ngah hari, tanggal 13 bagian terang

bulan Badra tahun 1279 Saka.



Orang Sunda sebenarnya cukup lama bersabar menanti peng-akuan dari para

penulis sejarah di luar Jawa Barat dalam menyikapi peristiwa Perang Bubat.

Jika memang terjadi, mengapa hanya para penulis sejarah dari Jawa Barat saja

yang mengangkat peristiwa itu sebagai fakta sejarah.



Sebaliknya jika memang tidak pernah terjadi, bukan hanya ganjalan hubungan

emosional dua daerah yang bertetangga yang bisa dihilangkan. Tetapi

bagian-bagian yang mengisahkan peristiwa tersebut dalam naskah-naskah kuno

di atas, patut dikesampingkan atau bahkan diabaikan karena dianggap

menyesatkan. Namun jika benar kandungan naskah kuno tersebut, mengapa kita

harus malu dan kemudian berusaha menutup aib seseorang yang selama itu

berambisi menyatukan seluruh wilayah Nusantara. Bukankah pepatah lama

mengatakan, "Tak ada gading yang tak retak?"



Apalagi sejarah yang ditulis dengan jujur bukanlah untuk mempermalukan seseorang. Tetapi bisa merupakan cermin untuk generasi berikutnya, sehingga tidak mengulang kekeliruan atau kesalahan yang sama. Dalam buku-buku sejarah yang ditulis oleh pengarang dari luar Jawa Barat, paling tidak terdapat dua buku yang memuat Perang Bubat menurut versi masing-masing.Peristiwa itu menjadi bagian dalam buku "Peperangan Kerajaan di Nusantara" (Penelusuran Kepustakaan Sejarah) yang ditulis Capt. R.P. Suyono (Grasindo, 2003: 18). Suyono tidak menyebut peristiwa itu sebagai peperangan, namun dianggap sebagai "perkelahian". Padahal, katanya sendiri, dalam peristiwa itu, Raja Sunda dan seluruh pengiringnya tewas. Putri Sunda dibawa paksa ke Majapahit, namun tak lama kemudian meninggal.



Menjadi pertanyaan, jika dianggap "perkelahian" saja, mungkinkah mengakibatkan banyak orang tewas? Kalau perkelahian kan paling tidak hanya mengakibatkan luka kecil, benjol-benjol atau benjut. Paling tidak, tangan atau kakinya terkilir.Perkelahian sangat berbeda dengan perang. Perkelahian, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia Badudu-Zain (Pustaka Sinar Harapan, 1996) berasal dari kata "kelahi". Berkelahi artinya mengadu tenaga, berhantam, bertinju, mengadu buku jari. Sebaliknya, "perang" artinya pertempuran dengan senjata antara dua negara, perkelahian besar antara dua kelompok orang, perlawanan yang sungguh-sungguh. Yang tak kalah menariknya adalah buku sejarah terbaru yang memberi tempat cukup panjang untuk Perang Bubat, "Jejak Nasionalisme Gajah Mada-Refleksi Perpolitikan dan Kenegaraan Majapahit untuk Masa Depan Indonesia Baru" yang ditulis oleh Dr. Purwadi M.Hum (DIVA Press, Jogjakarta, Agustus 2004). Kajiannya mengangkat Gajah Mada sebagai mahapatih dan sekaligus tokoh sentral yang mengantarkan puncak kejayaan Majapahit di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk yang berhasil mempersatukan kerajaan-kerajaan di wilayah Nusantara.

Sebagian besar perluasan wilayah kekuasaan itu berhasil diraih berkat peperangan. Namun tidak demikian halnya dengan Kerajaan Sunda yang menguasai wilayah bagian barat Pulau Jawa. Purwadi secara terang-terangan mengungkapkan upaya Gajah Mada melalui tipu muslihat sehingga pada tahun 1357 bisa mendatangkan Sri Baduga dan para pembesar Sunda ke Majapahit dan dibinasakan secara kejam di lapangan Bubat. Mengutip dasar tulisannya dari Kidung Sundayana, buku setebal 270 halaman itu, sembilan halaman dalam Bab VIII, Sumpah Palapa Gajah Mada Sebagai Politik Integrasi Nasional, bagian ini mengangkat hubungan dengan dengan Kerajaan Pakuan Pajajaran yang belum juga mengakui kekuasaan Majapahit, walau sudah dua kali diserang. Akhirnya, alih-alih Raja Hayam Wuruk yang lajang ingin menyunting putri Sunda yang kesohor cantik jelita, maka diutuslah Tuan Anepaken untuk melamar Dyah Pitaloka Citraresmi.

Maka ketika tiba saatnya, ratusan rakyat mengantar keberangkatannya yang disertai raja dan para bangsawan Sunda ke Majapahit dengan menggunakan perahu. Namun tiba-tiba, laut yang semula biru, secara mendadak dilihatnya berubah menjadi hamparan air yang berwarna merah. Tanda-tanda buruk itu rupanya tidak dihiraukan, sehingga setelah sepuluh hari berlayar, rombongan tiba di Bubat.

Namun apakah yang terjadi kemudian. Gajah Mada merasa keberatan menyambutnya karena menganggap putri Dyah Pitaloka Citraresmi akan "dihadiahkan" kepada Sang Raja. Sebaliknya Raja Sunda dan rombongan tetap bersikukuh bahwa putri Sunda yang cantik jelita itu akan "dipinang" oleh Hayam Wuruk. Perbedaan pendapat yang kemudian menimbulkan ketegangan itu akhirnya mencapai puncaknya setelah utusan Pasundan yang bernama Patih Anakepan mencela dengan keras sikap Gajah Mada. Bahkan ia mengingatkan adanya bantuan Pasundan yang tidak sedikit kepada Majapahit ketika menaklukkan Bali.

Purwadi menuturkan, sebelum ada keputusan sidang mahkota, Gajah Mada mendahului menyerang di sebelah utara kota Majapahit. Maka peperangan pun tak terhindarkan. Para kstaria terkemuka dari pihak Sunda yang bersemangat berperang ialah Larang Agung, Tuan Sohan, Tuan Gampong, Panji Melong, orang-orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuan Usus, Pangulu, Rangga Kaweni, orang Siring, Satrajali, Jagadsaya, dan banyak lagi. Namun karena tujuan mereka bukan untuk berperang, maka hasil akhir peperangan itu sudah bisa ditebak. Dalam membela kehormatan martabatnya dan Kerajaan Sunda, Sang Prabu Maharaja gugur lebih dulu, jatuh bersama Tuan Usus. Namun peperangan masih belum berakhir.Para ksatria Sunda lainnya mengikuti jejak Prabu Maharaja, namun mereka terdesak dan akhirnya gugur. Pada halaman 173, Purwadi menggambarkan korban akibat peperangan tersebut secara dramatis: "Darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang Sunda, tak ada yang ketinggalan". Peristiwa ini terjadi pada tahun Saka sembilan kuda sayap bumi, atau tahun 1279.Prabu Maharaja yang gugur di Bubat sebagaimana diungkapkan naskah-naskah kuno di Sunda, memerintah selama tujuh tahun (1279-1357 M). Ia dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana, sehingga kematiannya yang tragis selalu dikenang.

Untuk mengisi kekosongan, selama enam tahun dari tahun 1357-1363 M, tampuk kekuasaan kerajaan berada di bawah perwalian Hyang Bunisora karena putra mahkota Prabu Niskala Wastu Kancana saat itu masih berusia di bawah umur. Setelah itu, Prabu Niskala Wastu Kancana memerintah dalam kurun waktu cukup lama, yakni selama 104 tahun, dari tahun 1363-1467. Ia dikenal juga sebagai Prabu Wangi yang menurut sumber-sumber prasasti, pernah memerintah dan meninggal di Kawali/Galuh. Ia memerintah dengan adil, sehingga mengantarkan kerajaan pada kebesaran dan kejayaan.

Hayam Wuruk yang merasa sangat menyesal dengan terjadinya Perang Bubat, ternyata tetap menepati janjinya tidak menyerang Kerajaan Sunda. Bahkan sampai akhirnya masa keemasannya makin suram dan kemudian Majapahit mengalami kehancuran



beberapa data yang patut dikaji ulang mengenai peristiwa Bubat
1. Kidung Sunda,
Bahwa ketika melihat Dyah Pitaloka mati, Hayam Wuruk sedih hatinya dan tak lama setelah itu maka Hayam Wuruk meninggal dunia, yang menjadi pertanyaan adalah jika setelah beberapa saat peristiwa Lapangan Bubat Raja Hayam Wuruk mangkat maka pada usia berapa tahun Hayam Wuruk memiliki anak yaitu Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana, andai saja kidung itu benar seharusnya akan ada masa kekosongan posisi Raja Majapahit karena putri Kusumawardhani masih kecil dan ini tentunya akan jauh lebih heboh.
Disebutkan bahwa utusan Majapahit ke Sunda hanya menempuh waktu 6 hari dengan menggunakan kapal, jika menggunakan kapal besar kemungkinannya melalui sungai brantas, sementara sungai brantas bermuara di selat surabaya berarti jauh sekali, jika melalui laut selatan mungkinkah? lantas benarkah kejadian tersebut!

2. simulasi angka tahun sejarah(data diambil dari wikipedia)
- 1334 Hayam Wuruk lahir (ditandai dengan gempa besar di prabanyu pindah)
- 1351 peristiwa lapangan Bubat berarti usia Hayam Wuruk 17 tahun(1351-1334=17)
- 1365 dalam negara krtagama Kusumawardhani sudah menikah dengan Wikramawardhana, jadi usia Kusuma wardhani pada saat peristiwa bubat adalah kurang dari 14 tahun(1365-1351=14), dan usia Hayam Wuruk adalah 31 tahun (1365-1334=31)
- 1377 Hayam Wuruk menyerang palembang sebagai penundukan atas Sriwijaya, usia Hayam Wuruk 43 tahun (1377-1334=43)
- 1389 Hayam Wuruk Meninggal di usia 55 tahun(1389-1334=55) dan wikramawardhana menjadi raja
jika hal di atas benar maka benarkah kutipan dalam pararaton menyebut bahwa Hayam Wuruk meninggal setelah peristiwa bubat karena kesedihan atas meninggalnya Dyah Pitaloka, karena berdasar data tersebut Hayam Wuruk meninggal 38 tahun setelah peristiwa Bubat!!